Deskripsi Iklan

MENIKAH BUKAN AKHIR MANIS DARI CERITA CINTA

|| || || Leave a komentar
DEY AINISWARI Posted on 28 December 2012
To love and be loved. Inilah harapan semua orang pada akhirnya bersama pasangan mereka. Sebagian orang mencintai pasangan sampai memilih untuk mengikat hubungan mereka dalam tali pernikahan, tapi mungkin tidak bagi yang lain. Fiona (24) bercerita kepada FIMELA.com tentang ketakutannya menikah. Ketika masa kecil menyeretnya dalam pemikiran menyeramkan tentang pernikahan, lalu apa yang bisa dilakukan?
Pernikahan“Buat apa menikah? Romantisme sudah mati.” Fiona memulai obrolan hari itu dengan straight forward. Ketika beberapa dari kita mengidamkan sebuah momen spesial bersama pasangan lewat pernikahan, Fiona belum menemukan titik tersebut sebagai salah satu tujuan hidupnya. Menurutnya pernikahan itu justru sesuatu yang menyeramkan. Hidup sendiri bukan sesuatu hal yang mudah, namun bukan tidak mungkin. Ia selalu berpikir bahwa melibatkan dua orang dalam satu hubungan itu sangat sulit. Sepertinya menggabungkan dua hati dan pikiran butuh usaha keras baginya.
Bukan tanpa alasan Fiona berpikir pernikahan adalah sesuatu yang sulit. Semasa hidupnya, pasangan-pasangan menikah yang ada di sekitarnya tidak ada yang menunjukkan sisi romantisme sebuah pernikahan. “Pernikahan seperti tanggung jawab, tuntutan, dan bisnis. Mereka menikah karena sudah pacaran 5 tahun, atau karena sudah umurnya. Bukan karena ‘he or she is the only one and I want to spend my whole life with him/her.
Terakhir kali Fiona melihat sepasang suami-istri di sekitarnya saling memperlihatkan kasih sayang adalah saat ia kecil, ketika orangtuanya masih harmonis dan belum bercerai. Kedua orangtua Fiona bercerai saat dia berumur 9 tahun. “Sampai sekarang alasan mereka bercerai masih belum ada yang bisa aku cerna dengan baik. Versi Mama dan Papa berbeda. Sangat membingungkan.” Hanya selang satu tahun setelah perceraian itu kemudian ibu Fiona menikah kembali dengan laki-laki yang sampai sekarang menempati peran ayah dalam keluarganya. “Semua begitu cepat dan mengagetkan. Belum selesai rasanya aku beradaptasi dengan peristiwa perceraian itu, lalu Mama sudah menikah kembali. Kalau ditanya alasan kenapa menikah cepat sekali, pasti Mama malah balik menyalahkan aku yang selalu merengek meminta ayah. Padahal maksudnya aku menanyakan ayah kandungku.” Menikah bagi Fiona menjadi seperti hanya main-main.
Setelah bertahun-tahun berlalu dan Fiona mendapatkan seorang adik dari Ayahnya yang sekarang, tidak kemudian membuat Fiona berpikir ulang tentang pernikahan. Keadaan semakin parah ketika Ayah tiri Fiona menjadi pengangguran empat tahun yang lalu. Posisi Ibunya sekarang masih seperti single parent yang membiayai hidupnya sendiri, dan Ayah tirinya hanya ‘numpang’ di rumahnya. Tidak pernah ada interaksi yang menunjukkan bahwa mereka berdua adalah sepasang suami istri, kecuali jika dituntut untuk pergi bersama di depan keluaga besar.
“Mama terlihat tidak bahagia selama belasan tahun menikah. Dia gagal menemukan partner dalam hidupnya yang bisa membawa dalam suka duka. Pada akhirnya, anak-anaknyalah yang menjadi korban.” Setiap harinya ibu Fiona tidak lepas dari pembicaraan tentang pernikahan di depan Fiona. Di usianya yang sekarang memang sudah waktunya Fiona memikirkan pernikahan, membuat Fiona semakin muak dengan istilah pernikahannya. Hubungan Fiona dengan pacarnya sekarang juga semakin memperburuk keadaan. “Aku dan pacarku hanya seperti formalitas dan jalan di tempat. Tidak tahu arah hubungan ini kemana. Aku seperti terperangkap dalam masa lalu dan masa sekarang. If you have no one to share with, then what’s the point? Pacaran itu overrated, dan menikah itu gambling.”Walaupun setengah hati Fiona tidak rela jika kehidupannya berakhir seperti ibunya, namun tetap ada Fiona kecil dan cerita fairy tale yang mengharapkan adanya seorang laki-laki yang membawanya ke petualangan baru kehidupan.
Ketika masalah seperti ini tersimpan terus-menerus dan menjadi sebuah keyakinan, maka selamanya keputusan menikah akan menjadi hal yang tidak membuatnya nyaman. Paparan ini dikatakan oleh psikolog Rangga Radityaputra, M.Psi, Psi. “Pertolongan pertama yang bisa dilakukan adalah dengan mengeluarkan emosi. Temukan teman curhat yang bisa mendengarkan dan dipercaya. Ceritalah tentang semua hambatan dan apa yang sedang dirasakan dan terjadi. Ini bukan soal menyelesaikan masalah, tapi untuk membuat kamu lebih nyaman.” Rangga juga menyarankan ketika bermasalah dengan hal seperti ini, temukan orang kedua yang dapat membantumu secara profesional. “Melakukan counseling tidak hanya membantu dalam pandangan masalah pernikahan saja, tapi juga keseluruhan kamu memandang kehidupan,” tambah Rangga.
Pernikahan bukanlah bersifat sementara, melainkan sebuah ikatan di atas janji suci dengan Yang Maha Kuasa bersama orang yang kita cintai, for his best and worst. Ketika komitmen hubungan dibawa ke jenjang ini, harapan untuk bahagia selamanya seperti dongeng anak bukanlah tidak mungkin untuk dicapai, namun harus dilakukan dengan keyakinan dan usaha. Seperti apa yang pernah dikatakan oleh Audrey Hepburn, “If I get married, I want to be very married.”
/[ 0 komentar Untuk Artikel MENIKAH BUKAN AKHIR MANIS DARI CERITA CINTA]\

Poskan Komentar