Deskripsi Iklan

KASIH TAK SAMPAI ......(MENYENTUH HATI SEORANG ANAK)

|| || || Leave a komentar
http://beritacint.blogspot.com

  • Alkisah, ada sepasang kekasih yang saling mencintai. Sang pria berasal dari
    keluarga kaya, dan merupakan orang yang terpandang di kota tersebut.
    Sedangkan sang wanita adalah seorang yatim piatu, hidup serba
    kekurangan, tetapi cantik, lemah lembut, dan baik hati. Kelebihan inilah
    yang membuat sang pria jatuh hati.

    Sang wanita hamil di luar nikah. Sang pria lalu mengajaknya menikah, dengan
    membawa sang wanita ke rumahnya. Seperti yang sudah mereka duga, orang tua
    sang pria tidak menyukai wanita tsb. Sebagai orang yang
    terpandang di kota tsb, latar belakang wanita tsb akan merusak reputasi
    keluarga. Sebaliknya, mereka bahkan telah mencarikan jodoh yang sepadan
    untuk anaknya. Sang pria berusaha menyakinkan orang tuanya, bahwa ia sudah
    menetapkan keputusannya, apapun resikonya bagi dia.
    Sang wanita merasa tak berdaya, tetapi sang pria menyakinkan wanita tsb
    bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sang pria terus berargumen
    dengan orang tuanya, bahkan membantah perkataan orangtuanya, sesuatu yang
    belum pernah dilakukannya selama hidupnya (di zaman dulu, umumnya seorang
    anak sangat tunduk pada orang tuanya).


    Sebulan telah berlalu, sang pria gagal untuk membujuk orang tuanya agar
    menerima calon istrinya. Sang orang tua juga stress karena gagal membujuk
    anak satu-satunya, agar berpisah dengan wanita tsb, yang menurut
    mereka akan sangat merugikan masa depannya.

    Sang pria akhirnya menetapkan pilihan untuk kawin lari. Ia memutuskan untuk
    meninggalkan semuanya demi sang kekasih. Waktu keberangkatan pun
    ditetapkan, tetapi rupanya rencana ini diketahui oleh orang tua sang pria.
    Maka ketika saatnya tiba, sang ortu mengunci anaknya di dalam kamar dan
    dijaga ketat oleh para bawahan di rumahnya yang besar.

    Sebagai gantinya, kedua orang tua datang ke tempat yang telah ditentukan
    sepasang kekasih tsb untuk melarikan diri. Sang wanita sangat terkejut
    dengan kedatangan ayah dan ibu sang pria... Mereka kemudian memohon
    pengertian dari sang wanita, agar meninggalkan anak mereka satu-satunya.

    Menurut mereka, dengan perbedaan status sosial yang sangat besar,
    perkawinan mereka hanya akan menjadi gunjingan seluruh penduduk kota,
    reputasi anaknya akan tercemar, orang2 tidak akan menghormatinya lagi.
    Akibatnya, bisnis yang akan diwariskan kepada anak mereka akan bangkrut
    secara perlahan2.


    Mereka bahkan memberikan uang dalam jumlah banyak, dengan permohonan agar
    wanita tsb meninggalkan kota ini, tidak bertemu dengan anaknya lagi, dan
    menggugurkan kandungannya. Uang tsb dapat digunakan untuk membiayai
    hidupnya di tempat lain.


    Sang wanita menangis tersedu-sedu. Dalam hati kecilnya, ia sadar bahwa
    perbedaan status sosial yang sangat jauh, akan menimbulkan banyak kesulitan
    bagi kekasihnya. Akhirnya, ia setuju untuk meninggalkan kota ini,
    tetapi menolak untuk menerima uang tsb. Ia mencintai sang pria, bukan
    uangnya. Walaupun ia sepenuhnya sadar, jalan hidupnya ke depan akan sangat
    sulit?.


    Ibu sang pria kembali memohon kepada wanita tsb untuk meninggalkan sepucuk
    surat kepada mereka, yang menyatakan bahwa ia memilih berpisah dengan sang
    pria. Ibu sang pria kuatir anaknya akan terus mencari
    kekasihnya, dan tidak mau meneruskan usaha orang tuanya. 'Walaupun ia kelak
    bukan suamimu, bukankah Anda ingin melihatnya sebagai seseorang yang
    berhasil? Ini adalah untuk kebaikan kalian berdua', kata sang ibu.


    Dengan berat hati, sang wanita menulis surat . Ia menjelaskan bahwa ia sudah
    memutuskan untuk pergi meninggalkan sang pria. Ia sadar bahwa keberadaannya
    hanya akan merugikan sang pria. Ia minta maaf karena telah melanggar janji
    setia mereka berdua, bahwa mereka akan selalu bersama dalam menghadapi
    penolakan2 akibat perbedaan status sosial mereka. Ia tidak kuat lagi
    menahan penderitaan ini, dan memutuskan untuk berpisah.

    Tetesan air mata sang wanita tampak membasahi surat tersebut.


    Sang wanita yang malang tsb tampak tidak punya pilihan lain. Ia terjebak
    antara moral dan cintanya. Sang wanita segera meninggalkan kota itu,
    sendirian. Ia menuju sebuah desa yang lebih terpencil. Disana, ia
    bertekad untuk melahirkan dan membesarkan anaknya.


    ==========0000000000==============


    Tiga tahun telah berlalu. Ternyata wanita tersebut telah menjadi seorang
    ibu. Anaknya seorang laki2. Sang ibu bekerja keras siang dan malam, untuk
    membiayai kehidupan mereka. Di pagi dan siang hari, ia bekerja di sebuah
    industri rumah tangga, malamnya, ia menyuci pakaian2 tetangga dan menyulam
    sesuai dengan pesanan pelanggan. Kebanyakan ia melakukan semua pekerjaan
    ini sambil menggendong anak di punggungnya.

    Walaupun ia cukup berpendidikan, ia menyadari bahwa pekerjaan lain tidak
    memungkinkan, karena ia harus berada di sisi anaknya setiap saat. Tetapi
    sang ibu tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya...


    Di usia tiga tahun, suatu saat, sang anak tiba2 sakit keras. Demamnya
    sangat tinggi. Ia segera dibawa ke rumah sakit setempat. Anak tsb harus
    menginap di rumah sakit selama beberapa hari. Biaya pengobatan telah
    menguras habis seluruh tabungan dari hasil kerja kerasnya selama ini, dan
    itupun belum cukup. Ibu tsb akhirnya juga meminjam ke sana-sini, kepada
    siapapun yang bermurah hati untuk memberikan pinjaman.


    Saat diperbolehkan pulang, sang dokter menyarankan untuk membuat sup
    ramuan, untuk mempercepat kesembuhan putranya. Ramuan tsb terdiri dari
    obat2 herbal dan daging sapi untuk dikukus bersama. Tetapi
    sang ibu hanya mampu membeli obat2 herbal tsb, ia tidak punya uang
    sepeserpun lagi untuk membeli daging. Untuk meminjam lagi, rasanya tak
    mungkin, karena ia telah berutang kepada semua orang yang ia kenal, dan
    belum terbayar.


    Ketika di rumah, sang ibu menangis. Ia tidak tahu harus berbuat apa, untuk
    mendapatkan daging. Toko daging di desa tsb telah menolak permintaannya,
    untuk bayar di akhir bulan saat gajian.


    Diantara tangisannya, ia tiba2 mendapatkan ide. Ia mencari alkohol yang ada
    di rumahnya, sebilah pisau dapur, dan sepotong kain. Setelah pisau dapur
    dibersihkan dengan alkohol, sang ibu nekad mengambil sekerat daging dari
    pahanya. Agar tidak membangunkan anaknya yang sedang tidur, ia mengikat
    mulutnya dengan sepotong kain... Darah berhamburan. Sang ibu tengah berjuang
    mengambil dagingnya sendiri, sambil berusaha tidak
    mengeluarkan suara kesakitan yang teramat sangat?..


    Hujan lebatpun turun. Lebatnya hujan menyebabkan rintihan kesakitan sang
    ibu tidak terdengar oleh para tetangga, terutama oleh anaknya sendiri.
    Tampaknya langit juga tersentuh dengan pengorbanan yang
    sedang dilakukan oleh sang ibu ............ .


    ==========0000000000==============


    Enam tahun telah berlalu, anaknya tumbuh menjadi seorang anak yang tampan,
    cerdas, dan berbudi pekerti. Ia juga sangat sayang ibunya... Di hari minggu,
    mereka sering pergi ke taman di desa tersebut, bermain
    bersama, dan bersama2 menyanyikan lagu 'Shi Sang Chi You Mama Hau'
    (terjemahannya 'Di Dunia ini, hanya ibu seorang yang baik').


    Sang anak juga sudah sekolah. Sang ibu sekarang bekerja sebagai penjaga
    toko, karena ia sudah bisa meninggalkan anaknya di siang hari.

    Hari2 mereka lewatkan dengan kebersamaan, penuh kebahagiaan. Sang anak
    terkadang memaksa ibunya, agar ia bisa membantu ibunya menyuci di malam
    hari. Ia tahu ibunya masih menyuci di malam hari, karena perlu tambahan
    biaya untuk sekolahnya. Ia memang seorang anak yang cerdas.


    Ia juga tahu, bulan depan adalah hari ulang tahun ibunya. Ia berniat
    membelikan sebuah jam tangan, yang sangat didambakan ibunya selama ini.
    Ibunya pernah mencobanya di sebuah toko, tetapi segera menolak setelah
    pemilik toko menyebutkan harganya. Jam tangan itu sederhana, tidak terlalu
    mewah, tetapi bagi mereka, itu terlalu mahal. Masih banyak keperluan lain
    yang perlu dibiayai.


    Sang anak segera pergi ke toko tsb, yang tidak jauh dari rumahnya. Ia
    meminta kepada kakek pemilik toko agar menyimpan jam tangan tsb, karena ia
    akan membelinya bulan depan. 'Apakah kamu punya uang?'
    tanya sang pemilik toko. 'Tidak sekarang, nanti saya akan punya', kata sang
    anak dengan serius..


    Ternyata, bulan depan sang anak benar2 muncul untuk membeli jam tangan tsb.
    Sang kakek juga terkejut, kiranya sang anak hanya main2.



    Ketika menyerahkan uangnya, sang kakek bertanya 'Dari mana kamu mendapatkan
    uang itu? Bukan mencuri kan ?'. 'Saya tidak mencuri, kakek...

    Hari ini adalah hari ulang tahun ibuku. Saya biasanya naik becak pulang
    pergi ke sekolah. Selama sebulan ini, saya berjalan kaki saat pulang dari
    sekolah ke rumah, uang jajan dan uang becaknya saya simpan untuk beli jam
    ini. Kakiku sakit, tapi ini semua untuk ibuku.. O ya, jangan beritahu ibuku
    tentang hal ini. Ia akan marah' kata sang anak. Sang pemilik toko tampak
    kagum pada anak tsb.


    Seperti biasanya, sang ibu pulang dari kerja di sore hari. Sang anak segera
    memberikan ucapan selamat pada ibu, dan menyerahkan jam tangan tsb. Sang
    ibu terkejut bercampur haru, ia bangga dengan anaknya. Jam
    tangan ini memang adalah impiannya.. Tetapi sang ibu tiba2 tersadar, dari
    mana uang untuk membeli jam tsb. Sang anak tutup mulut, tidak mau menjawab.



    'Apakah kamu mencuri, Nak?' Sang anak diam seribu bahasa, ia tidak ingin
    ibu mengetahui bagaimana ia mengumpulkan uang tersebut.

    Setelah ditanya berkali2 tanpa jawaban, sang ibu menyimpulkan bahwa anaknya
    telah mencuri. 'Walaupun kita miskin, kita tidak boleh mencuri. Bukankah
    ibu sudah mengajari kamu tentang hal ini?' kata sang ibu.


    Lalu ibu mengambil rotan dan mulai memukul anaknya. Biarpun ibu sayang pada
    anaknya, ia harus mendidik anaknya sejak kecil. Sang anak menangis,
    sedangkan air mata sang ibu mengalir keluar. Hatinya begitu
    perih, karena ia sedang memukul belahan hatinya. Tetapi ia harus
    melakukannya, demi kebaikan anaknya.


    Suara tangisan sang anak terdengar keluar. Para tetangga menuju ke rumah
    tsb heran, dan kemudian prihatin setelah mengetahui kejadiannya. 'Ia
    sebenarnya anak yang baik', kata salah satu tetangganya.

    Kebetulan sekali, sang pemilik toko sedang berkunjung ke rumah salah satu
    tetangganya yang merupakan familinya.


    Ketika ia keluar melihat ke rumah itu, ia segera mengenal anak itu. Ketika
    mengetahui persoalannya, ia segera menghampiri ibu itu untuk menjelaskan.
    Tetapi tiba2 sang anak berlari ke arah pemilik toko, memohon
    agar jangan menceritakan yang sebenarnya pada ibunya. 'Nak, ketahuilah, anak yang baik tidak boleh berbohong, dan tidak boleh
    menyembunyikan sesuatu dari ibunya'. Sang anak mengikuti nasehat kakek itu.
    Maka kakek itu mulai menceritakan bagaimana sang anak
    tiba2 muncul di tokonya sebulan yang lalu, memintanya untuk menyimpan jam
    tangan tsb, dan sebulan kemudian akan membelinya. Anak itu muncul siang
    tadi di tokonya, katanya hari ini adalah hari ulang tahun ibunya. Ia juga
    menceritakan bagaimana sang anak berjalan kaki dari sekolahnya pulang ke
    rumah dan tidak jajan di sekolah selama sebulan ini, untuk mengumpulkan
    uang membeli jam tangan kesukaan ibunya.


    Tampak sang kakek meneteskan air mata saat selesai menjelaskan hal tsb,
    begitu pula dengan tetangganya. Sang ibu segera memeluk anak kesayangannya,
    keduanya menangis dengan tersedu-sedu.'Maafkan saya, Nak.'

    'Tidak Bu, saya yang bersalah'.............. ..



    ===========000=================


    Sementara itu, ternyata ayah dari sang anak sudah menikah, tetapi istrinya
    mandul. Mereka tidak punya anak. Sang ortu sangat sedih akan hal ini,
    karena tidak akan ada yang mewarisi usaha mereka kelak.


    Ketika sang ibu dan anaknya berjalan2 ke kota, dalam sebuah kesempatan,
    mereka bertemu dengan sang ayah dan istrinya. Sang ayah baru menyadari
    bahwa sebenarnya ia sudah punya anak dari darah dagingnya
    sendiri. Ia mengajak mereka berkunjung ke rumahnya, bersedia menanggung
    semua biaya hidup mereka, tetapi sang ibu menolak. Kami bisa hidup dengan
    baik tanpa bantuanmu.


    Berita ini segera diketahui oleh orang tua sang pria. Mereka begitu ingin
    melihat cucunya, tetapi sang ibu tidak mau mengizinkan.


    ===========000==================


    Di pertengahan tahun, penyakit sang anak kembali kambuh. Dokter mengatakan
    bahwa penyakit sang anak butuh operasi dan perawatan yang konsisten. Kalau
    kambuh lagi, akan membahayakan jiwanya.


    Keuangan sang ibu sudah agak membaik, dibandingkan sebelumnya. Tetapi biaya
    medis tidaklah murah, ia tidak sanggup membiayainya.


    Sang ibu kembali berpikir keras. Tetapi ia tidak menemukan solusi yang
    tepat. Satu2nya jalan keluar adalah menyerahkan anaknya kepada sang ayah,
    karena sang ayahlah yang mampu membiayai perawatannya.


    Maka di hari Minggu ini, sang ibu kembali mengajak anaknya berkeliling
    kota , bermain2 di taman kesukaan mereka. Mereka gembira sekali, menyanyikan
    lagu 'Shi Sang Chi You Mama Hau', lagu kesayangan
    mereka. Untuk sejenak, sang ibu melupakan semua penderitaannya, ia hanyut
    dalam kegembiraan bersama sang anak.


    Sepulang ke rumah, ibu menjelaskan keadaannya pada sang anak. Sang anak
    menolak untuk tinggal bersama ayahnya, karena ia hanya ingin dengan ibu.
    'Tetapi ibu tidak mampu membiayai perawatan kamu, Nak' kata
    ibu.. 'Tidak apa2 Bu, saya tidak perlu dirawat. Saya sudah sehat, bila bisa
    bersama2 dengan ibu. Bila sudah besar nanti, saya akan cari banyak uang
    untuk biaya perawatan saya dan untuk ibu. Nanti, ibu tidak perlu bekerja
    lagi, Bu', kata sang anak. Tetapi ibu memaksa akan berkunjung ke rumah sang
    ayah keesokan harinya. Penyakitnya memang bisa kambuh setiap saat.


    Disana ia diperkenalkan dengan kakek dan neneknya. Keduanya sangat senang
    melihat anak imut tersebut. Ketika ibunya hendak pulang, sang anak meronta2
    ingin ikut pulang dengan ibunya. Walaupun diberikan
    mainan kesukaan sang anak, yang tidak pernah ia peroleh saat bersama
    ibunya, sang anak menolak. 'Saya ingin Ibu, saya tidak mau mainan itu',
    teriak sang anak dengan nada yang polos. Dengan hati sedih dan menangis,
    sang ibu berkata 'Nak, kamu harus dengar nasehat ibu. Tinggallah di sini.
    Ayah, kakek dan nenek akan bermain bersamamu.' 'Tidak, aku tidak mau
    mereka. Saya hanya mau ibu, saya sayang ibu, bukankah ibu juga sayang saya?
    Ibu sekarang tidak mau saya lagi', sang anak mulai menangis.


    Bujukan demi bujukan ibunya untuk tinggal di rumah besar tsb tidak
    didengarkan anak kecil tsb. Sang anak menangis tersedu2 'Kalau ibu sayang
    padaku, bawalah saya pergi, Bu'. Sampai pada akhirnya, ibunya
    memaksa dengan mengatakan 'Benar, ibu tidak sayang kamu lagi. Tinggallah
    disini', ibunya segera lari keluar meninggalkan rumah tsb. Tampak anaknya
    meronta2 dengan ledakan tangis yang memilukan.


    Di rumah, sang ibu kembali meratapi nasibnya. Tangisannya begitu menyayat
    hati, ia telah berpisah dengan anaknya. Ia tidak diperbolehkan menjenguk
    anaknya, tetapi mereka berjanji akan merawat anaknya dengan
    baik. Diantara isak tangisnya, ia tidak menemukan arti hidup ini lagi. Ia
    telah kehilangan satu2nya alasan untuk hidup, anaknya tercinta.


    Kemudian ibu yang malang itu mengambil pisau dapur untuk memotong urat
    nadinya. Tetapi saat akan dilakukan, ia sadar bahwa anaknya mungkin tidak
    akan diperlakukan dengan baik. Tidak, ia harus hidup untuk
    mengetahui bahwa anaknya diperlakukan dengan baik. Segera, niat bunuh diri
    itu dibatalkan, demi anaknya juga.......... ..


    ============000=========


    Setahun berlalu. Sang ibu telah pindah ke tempat lain, mendapatkan kerja
    yang lebih baik lagi. Sang anak telah sehat, walaupun tetap menjalani
    perawatan medis secara rutin setiap bulan.


    Seperti biasa, sang anak ingat akan hari ulang tahun ibunya.

    Uang pun dapat ia peroleh dengan mudah, tanpa perlu bersusah payah
    mengumpulkannya. Maka, pada hari tsb, sepulang dari sekolah, ia tidak
    pulang ke rumah, ia segera naik bus menuju ke desa tempat tinggal ibunya,
    yang memakan waktu beberapa jam. Sang anak telah mempersiapkan setangkai
    bunga, sepucuk surat yang menyatakan ia setiap hari merindukan ibu, sebuah
    kartu ucapan selamat ulang tahun, dan nilai ujian yang sangat bagus. Ia
    akan memberikan semuanya untuk ibu.


    Sang anak berlari riang gembira melewati gang-gang kecil menuju rumahnya.
    Tetapi ketika sampai di rumah, ia mendapati rumah ini telah kosong.
    Tetangga mengatakan ibunya telah pindah, dan tidak ada yang tahu
    kemana ibunya pergi. Sang anak tidak tahu harus berbuat apa, ia duduk di
    depan rumah tsb, menangis 'Ibu benar2 tidak menginginkan saya lagi.'


    Sementara itu, keluarga sang ayah begitu cemas, ketika sang anak sudah
    terlambat pulang ke rumah selama lebih dari 3 jam. Guru sekolah mengatakan
    semuanya sudah pulang. Semua tempat sudah dicari, tetapi tidak ada kabar.

    Mereka panik. Sang ayah menelpon ibunya, yang juga sangat terkejut. Polisi
    pun dihubungi untuk melaporkan anak hilang.


    Ketika sang ibu sedang berpikir keras, tiba2 ia teringat sesuatu. Hari ini
    adalah hari ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk sampai melupakannya. Anaknya
    mungkin pulang ke rumah.. Maka sang ayah dan sang ibu segera naik mobil
    menuju rumah tsb. Sayangnya, mereka hanya menemukan kartu ulang tahun,
    setangkai bunga, nilai ujian yang bagus, dan sepucuk surat anaknya. Sang
    ibu tidak mampu menahan tangisannya, saat membaca tulisan2 imut anaknya
    dalam surat itu.


    Hari mulai gelap. Mereka sibuk mencari di sekitar desa tsb, tanpa
    mendapatkan petunjuk apapun. Sang ibu semakin resah. Kemudian sang ibu
    membakar dupa, berlutut di hadapan altar Dewi Kuan Im, sambil menangis ia
    memohon agar bisa menemukan anaknya.


    Seperti mendapat petunjuk, sang ibu tiba2 ingat bahwa ia dan anaknya pernah
    pergi ke sebuah kuil Kuan Im di desa tsb. Ibunya pernah berkata, bahwa bila
    kamu memerlukan pertolongan, mohonlah kepada Dewi Kuan Im yang welas asih..
    Dewi Kuan Im pasti akan menolongmu, jika niat kamu baik.

    Ibunya memprediksikan bahwa anaknya mungkin pergi ke kuil tsb untuk memohon
    agar bisa bertemu dengan dirinya.


    Benar saja, ternyata sang anak berada di sana . Tetapi ia pingsan, demamnya
    tinggi sekali. Sang ayah segera menggendong anaknya untuk dilarikan ke
    rumah sakit. Saat menuruni tangga kuil, sang ibu terjatuh dari tangga, dan
    berguling2 jatuh ke bawah.......... ..


    ============000==============


    Sepuluh tahun sudah berlalu. Kini sang anak sudah memasuki bangku kuliah.
    Ia sering beradu mulut dengan ayah, mengenai persoalan ibunya. Sejak jatuh
    dari tangga, ibunya tidak pernah ditemukan. Sang anak
    telah banyak menghabiskan uang untuk mencari ibunya kemana2, tetapi
    hasilnya nihil.


    Siang itu, seperti biasa sehabis kuliah, sang anak berjalan bersama dengan
    teman wanitanya. Mereka tampak serasi. Saat melaju dengan mobil, di
    persimpangan sebuah jalan, ia melihat seorang wanita tua yang sedang
    mengemis. Ibu tsb terlihat kumuh, dan tampak memakai tongkat. Ia tidak
    pernah melihat wanita itu sebelumnya. Wajahnya kumal, dan ia tampak
    berkomat-kamit.


    Di dorong rasa ingin tahu, ia menghentikan mobilnya, dan turun bersama
    pacar untuk menghampiri pengemis tua itu. Ternyata sang pengemis tua sambil
    mengacungkan kaleng kosong untuk minta sedekah, ia berucap dengan lemah
    'Dimanakah anakku? Apakah kalian melihat anakku?'


    Sang anak merasa mengenal wanita tua itu. Tanpa disadari, ia segera
    menyanyikan lagu 'Shi Sang Ci You Mama Hau' dengan suara perlahan, tak
    disangka sang pengemis tua ikut menyanyikannya dengan suara lemah. Mereka
    berdua menyanyi bersama. Ia segera mengenal suara ibunya yang selalu
    menyanyikan lagu tsb saat ia kecil, sang anak segera memeluk pengemis tua
    itu dan berteriak dengan haru 'Ibu? Ini saya ibu'.


    Sang pengemis tua itu terkejut, ia meraba2 muka sang anak, lalu bertanya,
    'Apakah kamu ??..(nama anak itu)?' 'Benar bu, saya adalah anak ibu?'.

    Keduanya pun berpelukan dengan erat, air mata keduanya berbaur membasahi
    bumi ............... .

    Karena jatuh dari tangga, sang ibu yang terbentur kepalanya menjadi hilang
    ingatan, tetapi ia setiap hari selama sepuluh tahun terus mencari anaknya,
    tanpa peduli dengan keadaaan dirinya. Sebagian orang menganggapnya sebagai
    orang gila.



    ====================000===========================


    Perenungkan untuk kita renungkan bersama-sama:


    Dalam kondisi kritis, Ibu kita akan melakukan apa saja demi kita. Ibu
    bahkan rela mengorbankan nyawanya..
    Simaklah penggalan doa keputusasaan berikut ini, di saat Ibu masih muda,
    ataupun disaat Ibu sudah tua :


    1. Anakku masih kecil, masa depannya masih panjang. Oh Tuhan, ambillah aku
    sebagai gantinya.

    2. Aku sudah tua, Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.


    Diantara orang2 disekeliling Anda, yang Anda kenal, Saudara/I kandung Anda,
    diantara lebih dari 6 Milyar manusia, siapakah yang rela mengorbankan
    nyawanya untuk Anda, kapan pun, dimana pun, dengan cara
    apapun ...........


    Tidak diragukan lagi 'Ibu kita adalah Orang Yang Paling Mulia di dunia ini'



    Ingin bergabung dalam sebuah MISI MULIA ? Ada 2 tindakan yang dapat Anda
    lakukan :


    1. Bila Anda beruntung (Ibu Anda masih ada di dunia ini), ajaklah ia untuk
    keluar makan atau jalan2 MALAM INI JUGA. Jangan ditunda2. Bila Ibu Anda
    tinggal di tempat yang terpisah jauh dengan Anda, telponlah dia malam ini
    juga, just to say 'hello'. Catatlah hari ulang tahunnya, rayakan, dan
    bahagiakanlah dia semampu Anda... Hidangkan makanan favoritnya, dst.


    2. Kirimkan kisah film ini kepada saudara/i Anda, teman2 Anda, maupun
    rekan2 kerja Anda (minimal 5, kalau 100 org lbh baik lagi). Bagi sebagian
    dari mereka, kisah ini mungkin akan seperti setetes embun yang menyegarkan
    jiwa mereka, yang terkadang terlalu sibuk dengan aktivitasnya sendiri.

    Anda sungguh berjasa dalam hal ini??


    Mom, my beloved. I love you Mom forever………in my deep heart…. I always
    missing you Mom……..!!
  • /[ 0 komentar Untuk Artikel KASIH TAK SAMPAI ......(MENYENTUH HATI SEORANG ANAK)]\

    Poskan Komentar