Deskripsi Iklan

Guru Sex Private Sange - Bag.3

|| || || 2 komentar



Guru Sex Private Sange.
Rupanya kekhawatiranlah yang menang. Tak lama Aku di situ lalu masuk kamar. Tapi lagi2, di kamar godaan itu begitu kuat. Aku ingin ke ruang tengah lagi. Aku gagal menahan diri ! Aku ke belakang ingin tahu Mbak Mar lagi kerja apa. Kuurungkan niat untuk berteriak memanggil mBak Mar, takut Tante terbangun. Di dapur tak ada. Aku ke kamarnya, dan kuketok, tak ada jawaban. Kuulangi lagi, masih sunyi. Pelan kubuka kamarnya yang tak pernah terkunci. Mbak Mar tak ada. Aman.....

Aku kembali ke ruang tengah, kembali mataku melahapi paha Tante. Masih ada rasa kurang aman. Aku keluar rumah menjumpai Mang Pendi di taman depan.
"Mbak Mar kemana Mang?"
"Oh ya, dia keluar tadi, Den" Aku selalu risi orang paro-baya ini memanggilku dengan Den.
"Tadi udah pamitan ama Ibu kok"katanya lagi.
"Ibu kemana?"tanyaku ngetest.
"Di dalam ga ada?"Mang Pendi balik nanya.
"Engga tuh..."jawabku berbohong.
"Di atas kali"

Aku kembali ke dalam. Aku mengamati paha Tante dengan bebas. Penisku langsung menegang. Baru kali ini Aku tahu ternyata di paha Tante tumbuh bulu2 yang amat halus, menambah keindahannya. Aku tegang, nafas memburu. Gelisah. Lupa akan niatku yang selama ini berhasil. Ingin rasanya aku mengeluarkan penisku dan mengocoknya seperti minggu lalu. Tapi itu terlalu berbahaya.

Tiba2 Tante menggerakkan tubuhnya. Aku tercekat, celaka. Aku siap2 kabur tapi tak jadi. Cuman gerakan sebentar, terus terdengar lagi dengkuran halusnya. Gerakannya tadi malah membuka pahanya sedikit lebih lebar, sampai secuil kain putih di ujung sana tampak. Celana dalam Tante ! Ampuun .... ini menambah keteganganku. Aku malah berharap Tante bergerak lagi sehingga makin melebarkan bukaan kakinya. Aku ingin melihatnya lebih lagi.


Aku bukannya surut untuk masuk ke kamar, tapi malah semakin ingin tahu celana dalamnya lebih banyak. Dalam kondisi yang begini tegangnya mempengaruhi akal sehatku. Aku nekat. Dengan amat perlahan tanganku menggapai ujung dasternya, kemudian dengan amat hati2 dan perlahan kusingkap ke atas. Tak menemui hambatan, karena daster itu cukup longgar. Ke atas dan lebih ke atas lagi sampai celana dalam Tante tampak keseluruhannya. Bahkan sampai sedikit kulit yang bukan main putih bersih di atas celana dalam.

Celana dalam Tante yang tipis agak menerawang memberiku "pelajaran baru". Semburat kehitaman di bawah perut Tante itu memberitahuku bahwa di kelamin perempuan ternyata tumbuh bulu2 juga. Kelaminku memang telah mulai ditumbuhi bulu, tapi aku tak tahu bahwa pada kelamin perempuan juga tumbuh. Maklumlah selama ini yang pernah kulihat hanyalah kelamin perempuan anak2 yang tentu saja polos.
Wah.... kalau saja Aku tak mampu menahan diri, celana dalam putih ini sudah Aku pelorotkan ingin tahu isinya lebih jelas.

Aku hampir saja berlari masuk kamar ketika kaki Tante bergerak lagi sebentar, lalu diam. Dengkuran halus itu yang mengurungkan niatku untuk kabur. Gerakan kaki yang menguntungkanku karena makin membuka pangkal pahanya lebih lebar. Kini selangkangan Tante tampak lebih kebawah, sampai nampak olehku lekukan persis di tengah. Aku mengerti itu jelas itu lekukan lubang kelamin, yang tak kumengerti adalah kenapa pas di lekukan itu agak membasah sehingga kain celananya nempel. Terbayang 'kan, bagaimana gelisahnya Aku ....

Dengkuran halus berhenti, tangan Tante yang bergerak-gerak, majalah yang menutupi mukanya tersingkirkan. Dengan cepat Aku bangkit dan mundur ke dekat pintu. Tante membuka matanya, menoleh kanan-kiri lalu melihat Aku yang berpura-pura baru saja masuk pintu.
"Oooh ...... "Tante menguap. "Kamu Din.....baru pulang...."katanya kemudian.
"Iya Tante"kataku agak gugup.
Tante bangkit dan cepat-cepat membetulkan rok-nya yang tersingkap. Aku melihatnya, dan celakanya, Tante menangkap mataku yang sedang menatapi bagian bawah tubuhnya. Tapi Tante biasa-biasa saja. Aku langsung masuk kamar, malu sendiri...

Di dalam kamar Aku kembali memutar "video" memori dari awal, semua yang baru Aku lihat ketika Tante tidur yang membuatku tegang lagi. Yang membuat langkah kakiku menuju kamar mandi, membuka rits celana dan "membebaskan" penisku dari himpitan celana. Kuelus-elus batang tegang ini. Lalu kuambil sabun, lalu aku membayangkan batang yang keras hangat ini menyeruak lekukan yang agak basah di selangkangan Tante...

***

Siang ini sepulang sekolah Aku kembali merapikan isi rak buku itu. Sekelompok demi sekelompok buku kuturunkan, kususun, kupisahkan dari dokumen2 lain yang bukan buku, lalu buku2 kuangkat lagi dan kususun rapi ke dalam rak. Beres, sekarang tampak lebih rapi. Puas aku memandangi hasil jerih payahku ini. Tapi ... di deretan kedua dari atas agak ke kiri ada yang tampak kurang rapi. Rasanya Aku sudah merapikan bagian ini. Mungkin ada orang yang mengambil buku dari situ, bisa Oom atau Tante, atau mungkin Aku kemarin tak teliti bisa saja. Aku turunkan sekelompok buku yang susnannya kurang rapi itu untuk kurapikan lagi.

Diantara tumpukan buku2 terselip suatu majalah dengan cover mengkilap dan huruf kanji yang membuat jantungku berhenti. Aku yakin benar majalah ini kemarin tak ada disitu. Berarti ada seseorang yang menyimpannya disini sewaktu Aku sekolah tadi. Siapa ? Aku tak ambil pusing, majalah itu lebih menarik perhatianku untuk kuteliti.

Cover depan yang membuatku terkejut adalah gambar perempuan Jepang telanjang bulat. Kulitnya begitu putih dan mulus, buah dadanya yang membulat dengan puting berwarna merah jambu, pinggangnya yang ramping dan perut yang rata. Sayangnya, bagian kelaminnya tertutup oleh pahanya yang menyilang. Cuma kelihatan sedikit bulu2 bagian atas, yang membuatku makin penasaran saja.

Tapi penasaranku tak berlangsung lama, di halaman 3 cewe cover tadi tampil 'seutuhnya'. Mataku langsung ke selangkangannya, bulu-bulu halus rapi menutupi sebagian "segitiga terbalik" di selangkangan cewe Jepun ini. Halaman berikutnya cewe telanjang tadi terlentang di selembar kain di halaman berumput, terus disampingnya berdiri cowo bule bugil dengan penis yang tegang mengacung. Penis bule tadi ukurannya mirip punyaku, hanya warnanya saja yang beda. Punya dia putih kemerahan sedangkan punyaku coklat gelap.

Aku langsung membayangkan kalau cowo itu Aku dan cewe itu Tante, bentuk tubuh cewe itu memang mirip Tante. Aku mulai berdebar-debar. Gambar berikutnya lagi cowo itu mencium buah dada cewenya dan tangan cowo itu ke selangkangan cewe. Dan ketika Aku membuka lembaran berikutnya, jantungku berdegup kencang, tanganku gemetar, nafasku sesak.

Jelas sekali penis cowo itu menusuk masuk ke liang vagina cewe Jepang. Begitu bergetarnya tubuhku sampai kurasakan semua persendian runtuh, tubuhku lemas melihat gambar yang baru pertama kali aku lihat. Menurutku masuknya penis itu terlalu ke bawah, seakan tidak pada lubang vagina. tapi di bawahnya. Itu bayanganku selama ini (di kemudian hari Aku tahu ternyata memang disitu letak liang vagina). Ini pelajaran baru bagiku. Betapa tak karuan perasaanku waktu itu, susah kugambarkan. Aku malah bingung, akhirnya kuputuskan untuk ke luar rumah, pergi tanpa tujuan ....

***

Siang itu aku sedang nonton TV di ruang tengah ketika mendengar bunyi mobil memasuki garasi. Beberapa saat kemudian Tante masuk yang lagi-lagi membuatku kaget. Tante masuk dengan pakaian senam yang ketat, mencetak seluruh "seluk-beluk" tubuhnya yang sempurna.

Di bagian atas, kedua bulatan dadanya tampil penuh dengan tonjolan mempesona. Kemudian ke bawah menyempit mempertontonkan rampingnya pinggang, dan "mendadak" melebar lagi di bagian pinggul. Sama dengan di bagian dada, bokong Tante juga tercetak bulat menonjol ke belakang. Lalu sepasang kaki panjang yang ujungnya bermuara pada selangkangan yang menggembung indah. Aku segera ingat gambar tubuh telanjang cewe Jepang. Memang mirip.
"Kenapa Din?"
Oh.... tanpa sadar aku menatapinya dengan mulut yang sedikit terbuka.
"Eh...mmm... tubuh Tante bagus" begitu saja kalimatku meluncur.
Mata Tante sedikit terbelalak. Dia kaget. Jangankan dia, akupun kaget atas apa yang barusan kuucapkan.
Setelah kaget, baru aku khawatir. Aku telah bicara yang tak sepantasnya.
"Ha...ha.. tahu apa kamu" Eh, Tante malah ketawa.
Belum sempat Aku "membela diri", Tante langsung menaiki tangga. Ampuuun ..... goyang pinggulnya, membuat penisku menggeliat, membayangkan tubuhnya seandainya tanpa pakaian. Dasar kurang ajar.

Khayalan berlanjut. Kubayangkan tubuh indah tadi terlentang di depanku tanpa pakaian. Tampak gundukan di tengah selangkangan yang diliputi oleh bulu2 halus. Kemudian ada penis besar dan panjang yang tegang, yah... itu mungkin penisku yang memasuki gundukan berbulu itu, persis seperti gambar-gambar yang kemarin kulihat, lalu ............. terdengar langkah kaki....

Tante turun dengan blouse santai dipadu dengan rok di atas lutut warna coklat gelap yang menambah putihnya kulit tubuh. Wajahnya terlihat segar, habis mandi. Dihempaskan tubuhnya ke sofa panjang.
"Huuuhhh...... capek banget"katanya.
"Kan udah sering senam Tante"
"Iya...tapi tadi high-impact-nya lama.... ampe pegel2 semua"
Tante selonjor. Roknya sedikit terangkat manampilkan sepasang paha yang makin putih dan indah.
"Mau dipijitin, Tante?" Gila, kamu berani benar Din. Kalimat itu meluncur begitu saja. Ini adalah kalimat spontan yang muncul, seperti dulu di desa kalau ayahku mengeluh pegal2. Tentu saja Tante kaget mendengarnya.
"Eh, emangnya kamu bisa?"tanyanya.
"Dulu di rumah saya suka mijitin Ayah"kataku.
"Kamu sekarang engga capek?"
"Engga Tante"
"Gak ada PR?"
"Udah selesai"
"Ya cobalah...."katanya. Diambilnya semacam bantal yang di sofa, ditaruhnya ke karpet. Lalu Tante berbarig di karpet, telungkup.

Aku mulai dari pijitan di telapak kakinya. Tentu saja tak melewatkan pemandangan indah juluran sepasang kaki putih mulus dan sedikit paha belakang.
"Ehmmm.... enak juga pijitanmu"katanya.
Kedua telapak kaki selesai, aku ke pergelangan kaki.
Untuk pertama kalinya Aku menyentuh kulitnya yang begitu haluuuus. Lalu ke betis. Tante begitu menikmati pijatanku. Jelas saja Aku juga menikmati halus dan lembutnya sepasang betis Tante. Ini sudah cukup membuat penisku menegang.

Dari betis kuberanikan diriku untuk menjamah bagian tubuh di atas lutut. Bagian belakang lutut memang tak boleh dipijat, begitu kata ayahku. Ah.... padat banget pahanya. Mungkin karena Tante rajin senam. Amboi .... gundukan pantatnya itu.... Batangku sudah keras. Tanganku makin ke atas. Tak ada keberatan dari Tante. Bahkan ketika aku ke atas lagi yang tentu saja harus menerobos roknya, Tante tak melarang. Tapi Aku tak berani sampai pangkalnya. Aku kembali ke bawah, terus ke atas lagi. Tak sampai ke pangkal pahanya aku kembali ke bawah lagi. Roknya terangkat lagi sedikit. Begitu terus berulang-ulang. Tapi aku ingin melihat celana dalamnya seperti minggu lalu. Aku tak punya keberanian untuk mengangkat roknya lebih ke atas.
"Udah Din.... masa di situ terus..."kata Tante tiba2.
Ini menyadarkanku, memang dari tadi aku terus-menerus memijiti pahanya.
"Mana lagi tante?"
"Kamu capek gak?"
"Ah engga Tante, kalo mijitin ayah sampai sejam lebih"
"Ya udah, punggung Tante ya..."

Aku mulai dari bahunya seperti kalo aku mijit ayahku. Tentu saja sekarang jari2ku tak langsung merasai kulit punggungnya seperti tadi di kaki dan paha. Masih terhalang selembar blouse. Aku tak berani menyingkapnya. Padahal pengin banget merasai halusnya kulit punggung Tanteku ini. Lalu ke belikat. Kadang dengan kelima jari, kadang menekan-nekan dengan jempol saja. Tante menggeliat-geliat keenakan. Di bagian punggung jari2ku merasakan beha belakang Tante, yang membuatku membayangkan depannya, dan penisku menegang lagi. Waktu menekan-nekan dengan jempol, jariku yang lain merasakan beha bagian sampingnya, bahkan sempat merasakan kepadatan sebagian daging di dalamnya. Membuatku makin gelisah...
"Kalo ngurut kamu bisa gak?"
"Bisa tante, pake minyak apa?"
"Tolong ambilin di kamar, di laci meja rias, bentuknya kaya odol, warna biru putih, ada tulisannya KY"
Aku naik mengambil minyak yang dimaksud. Ada, tulisannya "K-Y Lubricating Jelly". Aku baru melihatnya, "odol" kok buat mijat.
"Apa sih ini Tante?"
"Ya buat ngurut, gak berminyak tapi licin"

Benar, di dalamnya ada cairan bening sedikit kental, licin tapi tak berminyak. Kembali Aku menjamahi betis mulus Tante. Sampai di paha adalah saat yang mendebarkan. Karena mengurut dari bawah ke atas dengan sendirinya tanganku mendorong pinggiran rok itu ke atas. Beberapa kali urutan sudah cukup untuk menampakkan celana dalam Tante. Gila..... bahkan pantatnyapun putih !

Celana dalam Tante tipis dan agak menerawang, seperti yang kulihat minggu lalu sewaktu Tante ketiduran, cuma yang ini ada hiasan renda2 di pinggirnya. Mataku terus tertuju pada bongkahan pantatnya yang sebagian tertutup celana dalam walaupun tanganku terus menguruti pahanya. Ingin rasanya aku merabai bongkahan kembar yang menjulang itu. Lebih kurang ajar lagi mataku lalu meneliti ke "sudut" di bawah pantatnya. Samar2 kulihat kain celana itu lengket ketat ke isinya, dan he.... seperti ada yang basah di situ.
Tante terkencing ? Bukan. Mungkin keringat, tapi aku tak tahu pasti. Pakaian senam tadi memang basah oleh keringat disana-sini, tapi dia tadi kan sudah mandi.

Suatu saat, mungkin aku terlalu banyak menuangkan cairan itu, paha Tante jadi begitu licin sehingga telapak tanganku "terpeleset" dan jempol kiriku sampai menyentuh di bawah sana. Benar, kurasakan di daerah situ basah. Tante mungkin geli sampai terkencing-kencing, pikirku.
"Udah Din sekarang punggung..."kata Tante. Suaranya agak serak. Entah kenapa.

Punggung..... berarti tiba kesempatanku untuk merasai kulit halusnya. Tak mungkin kan kalau mengurut ke blousenya ? Dengan deg-degan kusingkap blouse Tante sampai setengahnya dan Aku mulai mengurut. Bukan main halusnya kulit wanita ini, lembut banget. Tante kadang2 menggeliat. Berulang-ulang aku di situ.
"Ke atas lagi, Tante?"
"Iya" suaranya masih serak.
Maka kusingkap blousenya ke atas lagi sampai hampir ke bahu. Tante sedikit mengangkat tubuhnya supaya blousenya gampang kusingkap. Disinilah Aku kaget setengah mati.

Seluruh punggung putih itu telah terbuka, benar2 terbuka, tak ada lagi kaitan beha !
Aku yakin tadi Tante mengenakan beha, jelas terasa di tanganku sewaktu memijit. Kapan dia melepasnya ? Jelas sewaktu Aku ke atas mengambil "odol" ini. Otomatis mataku meneliti ke samping tubuhnya. Bulatan tepi buah dada kirinya tampak. Ooohh..... betapa perasaanku tak dapat kugambarkan. Yang jelas berdebar-debar sampai tanganku gemetaran. Indahnya dada itu, terlihat betapa padatnya.

Baru beberapa kali urutan mendadak Tante membuatku kaget lagi, padahal kaget yang tadi belum sepenuhnya hilang. Tante tiba-tiba membalikkan tubuhnya menjadi terlentang. Tentu saja kedua bulatan putih indah itu terpampang di depan mataku. Bulat, putih, mulus, ada urat2 halus kehijauan. Dan inilah baru pertama kali aku melihatnya, puting dadanya. Berwarna merah jambu, dengan lingkaran kecil coklat muda yang mengelilinginya, persis seperti gambar cewe Jepang yang duduk di taman itu. Beberapa saat Aku terpana menikmati pemandangan indah ini.
"Tante ..... "kataku pelan.
Pandanganku beralih ke wajahnya. Matanya sayu, kelihatan berkaca-kaca. Ada senyum tipis menghiasi bibirnya.

Tangan Tante menggapai lengan kiriku, dielus-elusnya. Aku merinding. Lalu ketika tangannya sampai di telapak tanganku, ditariknya tanganku ke dada kanannya. Telapak tanganku kini untuk pertama kalinya menyentuh buah lembut itu. Telapak tanganku dituntunnya memutar mengusapi buah dadanya. Dan kurang ajarnya aku, aku lalu mulai meremasinya. Mata Tante terpejam, tubuhnya menggeliat-geliat. Tanpa disuruh telapak tangan kanankupun ikut meremasi dada buah dada kirinya. Tante mendesah. Penisku keras sekali.
Beberapa saat aku meremasi dadanya, Tante perlahan bangkit duduk. Kami jadi berhadapan. Wajahnya mendekat. Bibirnya menyentuh bibirku. Kami berciuman. Baru pertama kali Aku mencium bibir perempuan. Lalu lidah Tante ikut menyapu-nyapu bibirku dan bahkan menerobos ke dalam mulutku. Ooh.... Aku melumati bibir Tanteku sendiri....

Selintas ada kesadaran di kepalaku. Ini tak benar. Aku melepas ciuman.
"Tante ......"kataku. He... suaraku jadi serak juga.
Tante tak berkata apapun, pandangan matanya makin sayu. Di usap2nya pipiku, dia angkat tubuhnya sehingga buah kembarnya tepat di mukaku, lalu ditempelkannya hidungku ke dadanya. Kuciumi buah dadanya. Dia arahkan putingnya ke mulutku. Aku bingung. Tapi cuma sesaat, karena Tante menyodorkan putingnya ke mulutku. Aku jadi seperti bayi yang sedang menyusu. Putingnya kecil, tapi keras. Kukemot-kemot. Tante merintih, dan .... "Ooh....Din....."

Cerita Dewasa - Lalu tangannya ke selangkanganku. Aku menghindar, entah mengapa aku malu Tante nanti tahu penisku sudah membesar dan keras. Tapi tangannya terus "mengejar", akhirnya aku menyerah. Tangannya menggenggam penisku.
"Din....." katanya berbisik.
"Ya Tante ..." Aku ikutan berbisik.
"Punyamu gede banget ....."
Gede ?
Apakah benar ?
Aku tak tahu, habis tak pernah lihat yang lain.

"Ayo.... kita pindah..."
Tante bangkit dan menarik tanganku, menuju kamarku. Buah dadanya berguncang indah.
Dia tutup pintu dan langsung dikuncinya. Sungguh Aku tak tahu apa yang akan kita lakukan di kamarku ini. Memang Aku pernah dengar dari teman2 sekolah tentang hubungan seks antara pria dan wanita. Aku waktu itu menjadi bahan tertawaan teman2 ketika menanyakan caranya, untuk apa, dll. Benar2 polos, kata mereka. Lalu Dito, kawan yang paling dekat menerangkan bahwa kelamin laki-laki dimasukkan ke dalam kelamin perempuan. Aku tak komentar apa-apa, hanya merasa aneh, mana cukup penis masuk, apakah tak sakit perempuannya ? Katanya enak. Aku berpikiran seperti itu karena melihat ukuran penisku yang tegang seandainya dimasukkan ke kelamin perempuan yang kecil, kelamin anak perempuan yang pernah aku lihat.

Tapi masa Tante ingin mengajakku berhubungan seks ? Bukankah Aku adalah anak dari kakak suaminya ?Tapi Tante lalu melepas blousenya melalui kepalanya, yang dari tadi menggantung di bahunya. Dia lalu membuka rits celanaku dan seterusnya sampai Aku telanjang bulat. Dirabanya penisku yang mangacung ke atas dan keras. Kemudian Tante melepas roknya, lalu disuruhnya Aku melepas celana dalamnya.

Aku bagai kerbau yang dicocok hidung menuruti kemauannya. Kupelorotkan celananya yang berenda itu. Ada cairan bening yang membasahi celana dalamnya. Lalu menarik tubuhku hingga rebah berdua ke kasurku.
Digenggamnya kelaminku dan kakinya mengangkang lebar. Aku takjub melihat selangkangannya. Lagi-lagi mirip gambar vagina cewe Jepang di majalah yang kutemukan di rak buku. Baru pertama kali Aku melihat kelamin perempuan dewasa. Bulu2nya halus rapi. Kemudian kulihat ke bawah lagi, ah .... begitu "complicated" ujudnya. Ada daging yang berlipat-lipat. Tidak seperti yang pernah kulihat, hanya berbentuk segitiga dengan "garis" vertikal di bawahnya.

Dituntunnya kelaminku ke arah kelaminnya. Digesek-gesekkan kepala kelaminku ke situ. Terasa sesuatu yang hangat dan membasah, dan tentu saja rasa enak di kepala penisku. Beberapa kali Tante menggesek-gesekan disitu, lalu ketika sampai di bagian bawah dia melepas genggamannya, tangannya ke belakang pantatku dan dia menekan. 
Terus terang Aku ragu, apakah ini sudah pada sasaran yang benar ? karena menurutku ini terlalu ke bawah.
Tapi karena didorong, Aku langsung saja menghunjam, dan mentok.
"Aauuuw..... pelan2 sayang..."teriak Tante.
"Oh... maaf Tante...."bisikku. Aha, aku dipanggil dengan "sayang".
"Tusuk pelan-pelan ya.... punyamu gede banget sih...."
Aku lalu mendororng penisku pelan2, terasa hangat di kepala penisku. Tapi masih mentok seperti terbentur tembok.

Tante makin melebarkan bentangan kakinya, dan lalu ikut mendorong. Terasa olehku masuk ke lubang yang hangat. Ooh enaknya....
Tante melenguh
kudorong lagi.
Tante merintih.
Kulihat kepalaku sudah tenggelam.
Kudorong lagi.
Tante mengerang. Aku khawatir, jangan2 Tante kesakitan.
"Kenapa Tante...."bisikku.
"Terus aja....terus"
Akupun terus sampai seluruh batang penisku "hilang".
Tante mendorong pinggulku menjauh, Ooh nikmatnya ... kurasakan batang penisku bergesekan dengan liang vaginanya. Sampai ke leher penis, Tante menekan lagi. Benar ! memang nikmat....
Aku lalu tahu apa yang harus kuakukan, tusuk dan lalu tarik membuatku enak.

Gimana dengan Tante ?
Tubuhnya bergerak-gerak tak karuan, mulutnya menceracau tak beraturan, mata terpejam kepala mendongak.
Tubuhku dipeluknya erat sekali.
"Nanti.... kalau....mau keluar.... bilang yah..."bisiknya terpatah-patah di dekat telingaku. Aku hanya mengangguk-angguk. Aku mengerti apa yang dia maksud. Pengalaman bermasturbasi memberitahuku apa arti "keluar" itu. Keluar cairan putih dari kelaminku.

Aku terus memompa sampai suatu saat terasa amat geli-geli di penisku. Kupercepat pompaanku, saatnya hampir tiba. lalu dengan cepat Aku mencabut. Tante terkejut, wajahnya menyiratkan "tak rela" aku mencabut kelaminku. Lho.... kan Aku cuma menuruti perintahnya. Aku lalu tumpah di perut Tante, Aku bagai melayang-layang, tubuhku seperti tak menyentuh kasur....

Tapi gelinjangan tubuh Tante tak berhenti. Diraihnya tanganku dan digesek-gesekkan ke selangkangannya. Aku menuruti saja, habis bingung sih ... tak tahu apa yang terjadi dengan Tante. Beberapa saat kemudian Tante menghentikan tanganku, penghentian yang tiba-tiba. Kupandangi wajahnya, menyiratkan rasa kecewa yang sangat. Aku bingung. Kudekati dia, kupeluk tubuhnya.
"Kenapa tante?"
Tante tak menjawab. Tubuhnya menunjukkan kegelisahan. Tapi lama-lama dia diam sendiri.
Mendadak aku diliputi rasa bersalah. Dengan kurangajarnya Aku berani memasukkan kelaminku ke dalam tubuh Tante. Dengan jahatnya Aku melakukan hubungan seks dengan isteri Oomku. Sekarang dia kelihatan kecewa atau bahkan marah.
"Maafkan saya Tante...."
Tante memalingkan wajah, menatapku.
"Bukan salahmu Din.... ini salah Tante sendiri..."
"Saya juga salah Tante...."
"Sudahlah....."katanya kemudian.
"Saya sudah kurang ajar berani2nya melakukan..........."
"Ooh.... bukan itu Din, maksud Tante..... Okay Tante jelaskan ya"
"Sebelumnya Tante nanya dulu, kamu rasakan enak gak tadi?"
"Enak banget .... baru kali ini saya merasakan hubungan seks"
"Bener, ini yang pertama kali?"
"Benar Tante. Saya belum pernah"

Dia menerangkan tentang puncak hubungan seks pada lelaki dan wanita, tentang orgasme. Aku jadi mengerti kenapa aku tadi serasa melayang-layang saat Aku "keluar". Dan akhirnya aku juga paham kenapa tadi Tante kecewa. Tante belum sampai orgasme. Mau gimana lagi, waktu tadi aku tusuk-tarik begitu enaknya, otomatis aku mempercepat gerakan supaya enaknya jadi "banyak". Saking enaknya aku rasakan geli-geli yang luar biasa dan tak bisa kutahan.
"Kalau begitu sudah sepantasnya saya minta maaf membuat Tante tadi kecewa"kataku.
"Engga Din.... ini salah Tante. Tante lupa bahwa kamu baru pertama kali. Tante terlalu berharap tadi...."
"Baik Tante, saya tadi terlalu cepat orgasme sementara Tante belum...."
"Okay, gak pa-pa. Kan baru pertama kali, lama-lama kamu nanti akan belajar dari pengalaman...."
Belajar dari pengalaman !
Itu artinya hubungan seks dengan Tante tak hanya kali ini saja. Ini yang membuatku ber-bunga2, habis .... hubungan seks ternyata nikmat banget .... Beda jauh nikmatnya dibanding dengan kalau kulakukan sendiri dengan onani.

Dengan refleks Aku memeluk tubuh Tante dan menciumi pipinya.
"Eh...eh... ada apa ini..."
"Tanda ucapan terima kasih, Tante"
"Untuk apa?"
"Tante telah membuat saya merasakan nikmatnya hubungan seks"
"Oh iya?"
"Iya, Tante"

Aku bangkit mengambil kotak tissu, kubersihkan perut Tante dari ceceran maniku.
"Badan Tante bagus banget...."
"Ih....tahu apa kamu" Persis komentar yang tadi sewaktu Tante dengan pakaian senam.
"Putih. mulus, halus..... Mana ada yang kaya gini di kampung saya"
Tante hanya diam, entah senang atau tidak atas pujianku yang jujur.
"Di kompleks sinipun gak ada yang kaya gini"
"Emang kamu udah lihat tubuh berapa perempuan"
"Bukan begitu Tante, Gak ada yang seputih dan mulus kaya Tante..."
Tante masih diam.
"Cantik, lagi"
"Udahlah......"

Tante bangkit ke kamar mandi, lalu setelah dia keluar aku juga masuk untuk bersih2.
Tante tak langsung berpakaian seperti yang kukira, tapi masih tiduran di ranjangku dan masih telanjang bulat.
Tak bisa kubayangkan indahnya pemandangan ini. seorang wanita yang masih tergolong muda dengan tubuh yang begitu indah sedang tergolek telanjang di tempat tidurku. Aku tak jadi berpakaian seperti yang kurencanakan tadi sehabis cuci2, tapi ikut terlentang di sebelah tante.

TAMAT.  Guru Sex Private Sange